Orang-orang Proyek oleh Ahmad Tohari

Orang-orang proyek

Saya sebenarnya bukan pembaca karya sastra indonesia yang bersemangat, cuma pernah baca sedikit sekali novel sastra. Eh, sebenarnya saya engga bisa membedakan mana yang karya sastra mana yang bukan sih, bisa ngomong novel ini karya sastra juga hanya berdasar dari label di barcode novelnya saja. Tapi secara umum bagi saya yang disebut karya sastra adalah karya yang ditulis dengan bahasa yang baku dan serius, membahas permasalahan yang aktual ataupun pemikiran kontemplatif mendalam, becanda pun dengan gaya yang sebisa mungkin intelek gitulah, CMIIW.

Saya tertarik untuk membeli buku berjudul Orang-orang Proyek ini berdasar sinopsis dari belakang buku yang menyatakan bahwa novel ini bercerita tentang insinyur yang membangun jembatan di sebuah desa beserta dengan konflik-konfliknya. Latar belakang pendidikan saya adalah arsitektur jadi ada semacam ketertarikan bawah sadar untuk memiliki novel ini. Sama seperti kalau anak teknik bertemu dengan anak teknik lain di jalan yang mengenakan jaket angkatan, badan bau belum mandi, mata panda kebanyakan lembur, otomatis merasa saudara sepenanggungan *air hugs*. Eh tapi jaman sekarang engga sebegitunya sih, anak teknik udah kece-kece, rapi, necis, wangi dan pandai bergaul, yang masi dekil, kesian deh yu.

Okay, kembali ke topik. Pertama kali bersentuhan dengan Ahmad Tohari melalui film “Sang Penari” yang merupakan adaptasi dari bukunya Ronggeng Dukuh Paruk. Bukunya cukup ngetop karena sempat dilarang terbit pada masa orde baru karena memang didalam novel banyak menyinggung mengenai PKI walau hanya sebagai background cerita. Saya cukup terkesan dengan filmnya, bagus, asumsinya novelnya pun bagus juga. Jadi ya sebenarnya saya belum pernah sama sekali membaca karya Ahmad Tohari dalam bentuk novel, ini novelnya yang pertama bagi saya, awwh *malu*. 

Novel ini bercerita tentang Kabul, seorang insinyur idealis mantan aktivis kampus yang memimpin sebuah proyek pembangunan jembatan di sebuah desa. Konflik utama terjadi antara Kabul yang idealis dengan sistem proyek yang korup. Sedari awal hingga akhir novel ada satu hal yang bagi saya terasa begitu kuat, yaitu keberpihakan. Keberpihakan Ahmad Tohari pada wong cilik. Keberpihakannya bukan hanya dalam tataran konsep saja, tapi termasuk bahasa penulisan novel ini yang banyak mengambil istilah-istilah bahasa daerah pula. Ahmad Tohari sepertinya memang ingin menempatkan feodalisme dan budaya korupsi sebagai musuh yang harus dilawan. Dan contoh paling nyata terjadinya kedua hal tersebut adalah pada proyek-proyek pemerintah, dimana Ahmad Tohari memotretnya dengan begitu gamblang. Segala macam intrik dan solusi pragmatis dari pelaku-pelaku proyek dalam novel ini benar-benar terjadi dalam kenyataan sehari-hari, bukan hanya pada masa orde baru, bahkan hingga kini. Sayangnya keberpihakan Ahmad Tohari ini digambarkan secara vulgar, sedikit marah, uneg-unegnya tergelontor keluar tak terkontrol, muntah. Mungkin memang begitu apa yang dia rasakan melihat korupsi yang begitu sistemik, dan engga tahu harus kemana lagi harus menyalurkan energi negatifnya. Yah, tapi bagi pembaca rasanya seperti nonton salah satu episode “Mbangun Desa” di TVRI dimana Pak Bina menjelaskan segala macam konflik, menjelaskan siapa yang baik siapa yang buruk. Misi yang mulia, sayangnya terlalu klise.

Sementara dibalik konflik utama tersebut ada sedikit bumbu romans dengan Wati, dan favorit saya adalah Pak Tarya, seorang pemancing yang banyak memberikan pernyataan-pernyataan kontemplatif, entah menanggapi curhat Kabul ataupun mengenai memancing (berdasar wiki, ternyata memang hobi Ahmad Tohari adalah memancing, gak heran tokoh Pak Tarya si pemancing yang hanya muncul selintas menjadi begitu signifikan dan menjadi favorit saya). Hubungan antara Kabul dan ibu-nya pun menarik, walau hanya digambarkan sedikit. Yang paling saya nikmati adalah deskripsi-deskripsi mendetail dari peristiwa yang terjadi dalam novel, sehingga serasa kita melihatnya dalam slow motion, seakan kita bisa menghirup debu proyek, merasakan panas yang menyengat di kulit, melihat pergerakan burung yang gelisah. Dalam pendapat saya, ini yang membedakan penulisan-penulisan penulis yang sudah berumur dengan penulis muda. Penulis-penulis cenderung rumit pada konsep, ide, pemikiran, pada hal-hal yang diolah dikepala. Sementara penulis lama seperti Ahmad Tohari ini, banyak berkontemplasi, menikmati alam, merasakannya dengan tubuh, bukan hanya dengan pemikiran.

2,5/5

Namaku Hiroko oleh NH Dini

Image

[buat whiny anti-spoiler, review ini mengandung sedikit spoiler. jauh-jauh gih]

Ini adalah novel NH. Dini yang pertama kali saya baca, sebenernya karena dipaksa teman karena suatu proyek yang melibatkan NH. Dini. Yaudah deh, dengan harapan akan ditraktir teman itu akhirnya saya kesampingkan antrian bacaan untuk membaca buku ini lebih dahulu. 

Namaku Hiroko ditulis dengan gaya memoir,tokoh utama (hiroko) sebagai sudut pandang pertama. Novel ini bercerita tentang seorang gadis jepang bernama Hiroko.. yaeyaalah, yang kayanya montok-montok hot gimana gitu. Cerita berawal dari kehidupan masa kecilnya di pedesaan yang sederhana sebagai anak dari buruh tani lalu berpindah ke kota dan terjebak oleh silau materialisme. Cukup klise sih tema-nya, tapi hal begini sangat mungkin terjadi di dunia nyata (yang kadang lebih absurd dan gak logis daripada dunia fiksi). Gaya berceritanya lempeng-lempeng aja, terkesan emotionless malahan, terasa seperti saat saya membaca E. Hemingway “The Sun Also Rises”. Namun seperti The Sun Also Rises pula, dibalik kesederhanaan tutur terasa ada pesan-pesan subtil yang mungkin baru terasa di pembacaan kedua. 

Yang menarik dari novel ini adalah pertimbangan moral dari Hiroko yang bisa dibilang liberal. Seks pertamanya dilakukan dengan adik dari majikannya, yang dilakukan tanpa penyesalan bahkan penuh kenikmatan. Kemudian dia melakukan hubungan intim dengan majikannya pula, dia tidak begitu menyukai majikannya tapi dia menikmati seks, jadi tetap dilakukan. Pertimbangan moral Hiroko ini seperti tanpa dasar, dia dibesarkan di desa dengan lingkungan cukup konservatif. Tiba-tiba saja dia menjadi wanita yang bebas saat tiba di kota. Memang dalam perjalanan ke kota Hiroko ditemani oleh Tomiko yang cukup liberal juga, yang berhubungan seks dengan orang-orang di kapal yang digambarkan secara implisit oleh NH. Dini. Namun rasanya alasan tersebut kurang kuat. Atau bisa juga NH. Dini berusaha memotret kultur masyarakat jepang yang memang sejatinya materialistis. Entah.

Momen yang cukup memorable saat membaca novel ini ada di 2/3 paruh buku. Tiba-tiba si Hiroko ini menjalin kasih dengan pemuda Supraprto dari Indonesia. Ini lucu, karena deskripsi NH. Dini tentang jepang dari awal begitu meyakinkan. Lingkungan, budaya, unggah-ungguh,  digambarkan dengan begitu baik sehingga saya merasa sedang membaca sebuah novel terjemahan. Kehadiran Suprapto membangunkan saya bahwa ini novel asli Indonesia. Belakangan baru saya baca bahwa NH Dini ternyata pernah beberapa saat tinggal di Jepang, yeah no wonder then.

Verdict, ini adalah novel yang cukup ringan, tidak ada belat-belit konflik yang memeras otak, dengan pesan-pesan yang lembut tersirat. Secara cerita terkesan seperti second-rate Memoirs of a Geisha, yang mengetengahkan girl power dan kekuatan perempuan untuk memutuskan hal-hal untuk dirinya sendiri tanpa pengaruh sosial. Dan juga bahwa kebebasan bukan hanya melulu keinginan pria, wanita juga mendambakan menyukai kebebasan. 

“..bahwa perkawinan adalah seperti sebuah pintu. Orang yang ada di luar ingin masuk. Sedangkan yang berada di dalam ingin keluar.” – Namaku Hiroko

3/5