The Thirteenth Tale (dongeng ketigabelas) oleh Diane Setterfield

the thirteenth tale

Saya membeli buku ini atas rekomendasi kawan, Siska Yuanita yang sekaligus adalah editor dari versi bahasa indonesianya. Dia bilang kalau saya pasti suka dengan buku ini. Apakah Siska seperti Vianne Rocher dari film Chocolat yang selalu bisa menebak apa coklat favorit dari pengunjungnya dalam sepintas lihat? Apapun itu, rekomendasi dari seorang editor buku kampiun tak boleh diremehkan bukan?

Buku debut karya Dianne Setterfield ini saya beli versi indonesianya karena pertimbangan editornya Siska, kalau engga saya cenderung untuk membeli versi inggrisnya karena kadang terjemahan novel ke indonesia kurang bagus dan seperti tercerabut dari konteks. Novel ini cukup tebal, 608 halaman dengan cover hitam dan tipografi warna emas, membangun ekspektasi novel yang dark. Saya buka halaman awal tanpa tergoda untuk membuka sinopsis di cover belakang, dengan opening notes:

Semua anak memitoskan kelahirannya sendiri. Itu karakteristik umum. Kau ingin mengenal seseorang? Hati, pikiran, dan jiwanya? Tanyakan padanya tentang saat dia lahir. Yang akan kaudapatkan bukanlah kebenaran: kau akan mendapatkan sebuah dongeng. Dan tak ada hal yang lebih menggugah selain dongeng

Dongeng-Dongeng Perubahan dan Keputusasaan, Vida Winter

Pembukaan yang cukup menjanjikan, sudah terasa bau-bau misteri, seperti menjejakkan kaki telanjang pada rumput basah yang mengarah ke hutan berkabut. Tokoh utama novel ini adalah Margaret Lea, seorang anak perempuan dari pemilik toko buku klasik sekaligus agen buku-buku langka, Margaret menemukan cinta pada buku dan kata-kata terutama biografi orang-orang yang telah lama mati, hingga ia menghargai buku lebih dari manusia (instant love for me). Margaret adalah penulis biografi amatir yang memiliki masalah psikologis dan keluarga tersendiri yang cukup pelik dan nantinya terkuak di belakang cerita.

Secara tiba-tiba Margaret mendapat surat dari Vida Winter, dalam novel ini diceritakan sebagai novelis sangat terkenal yang misterius, karena ia selalu menceritakan cerita yang berbeda-beda jika ditanya mengenai masa lalunya. Vida Winter (dari nama dan karakternya kebayang Anna Wintour)meminta Margaret untuk menuliskan biografi hidupnya, segera. Ini menjadi tanda tanya karena Vida Winter meminta seorang penulis amatir untuk menuliskan biografi hidupnya. Pelahan terkuak ternyata ada kesamaan sejarah antara Vida Winter dan Margaret, engga mau spoiler, seru soalnya 😉

Novel ini menyenangkan bagi saya karena berputar di sekitar buku-buku, keluarga Margaret pemilik toko buku, Margaret sendiri menyukai buku, Vida Winter penulis buku, dan banyak sekali adegan-adegan dalam novel ini terjadi di perpustakaan. Bagi penyuka buku, The Thirteenth Tale bisa masuk kategori porno. Ada beberapa literatur inggris klasik yang muncul secara berulang di novel ini, terutama Jane Eyre, Wuthering Heights, dan sedikit Sense and Sensibility. Tanpa penyebutan referensi Jane Eyre, The Thirtheenth Tale gayanya juga sudah mirip dengan Jane Eyre, kental nuansa gothic abad ke-19 dengan seting tempat yang terpencil, musim dingin, dan fenomena spiritual misterius. Mungkin penulis memiliki fetish tersendiri terhadap literatur inggris klasik tersebut, atau memang sengaja ingin menciptakan dunia paralel / mirror-world / narasi bertumpuk / jane eyreception (?).

Kudos buat penterjemah, karena tidak terasa kejanggalan bahasa,  tulisan mengalir sempurna. Saya sempat tersesat di dalam dunia ciptaan Dianne Setterfield, tersesat dan tak ingin kembali haha, ada rasa kehilangan di setiap halaman-halaman yang dibalik. Novel ini direkomendasikan penuh untuk pecinta buku, misteri, sisterhood, nuansa gothic abad ke-19 dan ‘hantu’.

4.5/5

The Sun Also Rises by Ernest Hemingway

Image

Dalam obrolan singkat dengan teman saya yang brilian andina dwifatma beberapa waktu yang lalu, entah berawal darimana dia menyarankan saya untuk membaca novel dari penulis favoritnya Ernest Hemingway, dan judul yang disarankan adalah The Sun Also Rises.

Secara umum novel ini bercerita tentang “lost generation” (istilah yang dipopulerkan oleh Hemingway dalam novel ini) yaitu generasi yang melalui perang dunia I, dimana PD I menimbulkan shock pada kehidupan yang melaluinya, sehingga pasca perang terjadi kegamangan dan perubahan perilaku, dalam novel ini digambarkan dengan ekspatriat yang banyak minum dan bersosialisasi seperti tanpa tujuan di kafe-kafe. Lalu berlibur dengan berpindah-pindah tempat.

Hemingway menampilkan secara subtil kegamangan “lost generation” dari sudut pandang mata pertama tokoh utama yaitu Jake Barnes, seorang amerika penulis ekspat di paris, dengan kawan yahudinya mantan petinju Robert Cohn,  dan kisah cinta / friendzone nya dengan Brett Asthley. Para ekspat tersebut menghibur diri dengan mabuk dari kafe ke kafe dan berlibur dari kota ke kota seperti melarikan diri dari sesuatu, yang sebenarnya percuma seperti ditegaskan dengan pernyataan dari Jake Barnes pada Robert Cohn “You can’t get away from yourself by moving from one place to another”. Sebenarnya cara Hemingway menyampaikan ide-ide secara subtil itu menarik, karena (setelah saya browse dari internet) ciri khas dari prosa Hemingway adalah “while little is said, much is communicated”, dan untuk membaca pesan tersirat tersebut butuh sensitifitas tersendiri dari pembaca.

Setelah selesai membaca kesan saya adalah, Hemingway bercerita dengan runtut dan sederhana, tidak memakai bahasa liris yang mendakik, membuat novel ini mudah dipahami. Namun bagi saya terasa sedikit datar dan repetitif. Entah berapa kali kata “swell” “chap” “tight” diulang-ulang, dan adegan-adegan di kafe dengan para ekspat itu mabuk lalu saling menggoda satu sama lain, datar. Jake Barnes seperti emotionless dan Brett Asthley is a total biyatch! (baca ndiri kalo ini, ga mau spoiler). Ada nuansa antisemit karena beberapa kali kata Jew disebut dengan konotasi yang negatif. Entah mengapa membaca novel ini mengingatkan saya pada The Great Gatsby dari F. Scott Fitzgerald, karena menceritakan tentang sebuah generasi yang diwakili oleh sekelompok manusia dengan kebiasaan-kebiasaan dekaden (bagi hemingway mabuk dari kafe ke kafe, bagi fitzgerald pesta-pesta besar) dan kisah cinta segitiga/banyak antar tokohnya bagi saya mirip, dan kedua novel itu memberi kesan yang sama bagi saya, tedious dan sedikit membosankan. Untuk dapat menikmati novel ini sepertinya harus benar-benar mengerti konteks atau jika tahan dengan bahasa yang repetitif, setidaknya membacanya lebih dari sekali. Verdict 3/5

Cerita Cinta Enrico oleh Ayu Utami

20120216080333759

Saya pertama kali berkenalan dengan Ayu Utami melalui novelnya Larung sekitar 10 tahun yang lalu. Larung mencecar saya dengan bahasa yang vulgar sekaligus cerdas, memeras otak sejak alinea pertama. Sebagai konsekuensi logis saya lalu membaca Saman, yang sebenarnya merupakan novel yang ditulis Ayu sebelum Larung, dan cerita kedua novel tersebut saling berhubungan. Kedua novel tersebut membuka mata saya bahwa novelis perempuan tidak harus selalu menulis novel cinta-cintaan yang menye-menye saja. Sebenarnya Ayu Utami adalah novelis perempuan pertama Indonesia yang pernah saya baca, jadi secara otomatis karya dia menjadi benchmark bagi pembacaan novel-novel indonesia terutama karya perempuan lainnya. Saman dan Larung bukan tanpa kelemahan, Saman yang terasa jumpy plotnya dan Larung yang tensinya terasa kedodoran di akhir novel. Lalu beberapa tahun lalu saya membaca Bilangan Fu yang menurut saya merupakan masterpiece dari Ayu Utami yang konon ditulis selama 4 tahun. Bilangan Fu menurut saya adalah luapan konsep-konsep pemikiran yang oleh Ayu ditata sedemikian rupa melalui narasi. Kekuatan konsep melebihi narasinya yang bagi saya terasa kurang kuat terutama di bagian ending yang terasa kurang memuaskan. Namun konsep pemikiran yang diutarakan sungguh luar biasa dan terus terang mengubah cara pandang saya terhadap kehidupan, politik dlsb. Setelah itu Ayu meluncurkan novel Manjali dan Cakrabirawa yang menurut saya merupakan lite version dari Bilangan Fu yang lebih fokus ke si roman tokoh-tokohnya.

Ayu Utami di awal 2012 meluncurkan novel terbarunya yaitu Cerita Cinta Enrico. Yang menarik perhatian pertama ada covernya yang berbeda dengan cover Ayu Utami yang biasanya artsy-angsty menjadi lebih colorful dan agak kekanak-kanakan. Terus terang cover Cerita Cinta Enrico ini agak membuat saya underestimate isi novelnya. Tapi walau bagaimanapun, ini adalah novel Ayu Utami, saya harus beli!. Berdasar sinopsis di cover belakang dituliskan bahwa Cerita Cinta Enrico adalah kisah nyata seorang anak yang lahir bersamaan dengan Pemberontakan PRRI. Ia menjadi bayi gerilya sejak usia satu hari. Yang dikemudian hari dia menjadi aktivis di ITB pada era Orde Baru, sebelum gerakan mahasiswa dipatahkan. Merasa dikebiri rezim Soeharto. Akhirnya ia melihat peristiwa itu bersamaan dengan ia melihat perempuan yang menghadirkan kembali sosok yang ia cintai sekaligus hindari: Ibunya.

Nah, anak yang menjadi tokoh utama sekaligus pencerita di novel ini adalah Enrico yang di dunia nyata adalah suami dari Ayu Utami. Saya tidak akan membuka alur cerita dari novel ini, namun intinya adalah novel ini semacam tanda cinta Ayu pada suaminya, usaha untuk mendamaikan pergulatan perasaan suaminya terhadap ibunya ( karena apakah pergulatan perasaan tersebut, ya baca saja novelnya ). Seperti layaknya novel biografis, novel menceritakan kehidupan Enrico semenjak dia lahir, hingga ujungnya adalah pernikahannya dengan Ayu. Bagi saya yang sudah terbiasa membaca novel Ayu yang penuh konsep dan pemikiran, membaca Cerita Cinta Enrico terasa sedikit membosankan. Ekspektasi yang terbangun akibat novel Ayu Utami sebelumnya sebaiknya dihilangkan saat akan membaca novel ini. Namun, kebosanan itu perlahan-lahan hilang mulai pertengahan novel hingga klimaks di akhirnya. Berbeda dengan tradisi penulisan Ayu Utami bagi saya yang selalu trengginas di awal namun sedikit kedodoran di akhir, Cerita Cinta Enrico ini sedikit membosankan di awal namun begitu prima di akhir. Gaya bahasanya cukup ringan namun tetap penuh pemikiran (terutama di akhir novel). Ayu menjelaskan bagaimana dia jatuh cinta, dan mengapa dia memilih untuk menikah, dimana sebelumnya dia begitu menolak institusi bernama pernikahan. Dan semuanya itu ditulis dengan sudut pandang Enrico. saya kutip :

“Cinta tak perlu diuji atau dikatakan. Cinta akan tumbuh dengan sendirinya jika memang mau tumbuh.” 

Cerita Cinta Enrico hlm. 145

Women by Charles Bukowski

Bukowski

Suatu hari biasa di semesta digital, engga ada hal yang lebih asik daripada buang air besar sembari memperhatikan riuh rendah timeline twitter di layar ponsel. Kenapa yah asyik, mungkin ciciuit random di timeline bisa menambah semangat enjotan rectum (?). Di timeline beberapa kali saya menemukan kata ‘bukowski’ beberapa kali disebut, sontak saya bertanya kepada teman di timeline “siapa sih bukowski?” dia jawab “penulis pemabuk yang galau.” waw, sebagai anak jaman,semua hal yang galau tentu saja menarik untuk disimak.

Setelah kulik-mengulik interwebs, ditemukanlah novel dari charles bukowski berjudul ‘women’ versi epub. Di novel ini tokoh utamanya bernama Henry Chinaski yang berdasar wikipedia merupakan tokoh autobiografis dari Bukowski sendiri. Henry Chinaski adalah pensiunan pegawai kantor pos (seperti Bukowski juga) yang menjadi penulis puisi dan novel, sebagai latar belakang adalah di kalangan menengah kebawah Los Angeles tahun 70an. Di novel ini diceritakan Chinaski berumur 50 tahunan, sudah di puncak kejayaannya sebagai penulis puisi dan novel, hampir 300 halaman awal hanya bercerita tentang hubungannya dengan banyak perempuan yang sebagian besar adalah fansnya, yang berkisar antara seks-mabuk-seks-mabuk-seks-mabuk-baca puisi-seks-mabuk dst. Karakter hank (panggilan chinkaski) disini adalah seorang pria pemabuk yang hampir tidak pernah lepas dari botol dan hanya memikirkan seks dan seks. Namun entah mengapa, pribadi pria tua pemabuk yang sex oriented itu menarik banyak perempuan untuk datang, trus nasib pria sopan dan pemalu seperti akuuu gimanaaaa???!!.. (maap curcol).

Adegan seks di novel ini digambarkan cukup vulgar, lumayan seru lah kalo dibaca aga-aga bikin ngaceng dikit, buat yang engga demen stensilan, kurang disarankan baca novel ini. Hampir engga ada cinta-cintaan yang lebay digambarkan disini, hubungan romantis digambarkan secara selintas dan tidak berlebih. Patah hati digambarkan dengan datar, berlalu begitu saja, cinta seperti hanya semacam reaksi kimia pra-sex. Gahar mamen! bisa jadi novel ini bukan untuk manusia-manusia penghamba drama dan romansa. Ini novelnya pria sejati! haha

Ini membuat saya berpikir, apa jangan-jangan cinta-cintaan dan patah hati itu sebenarnya hanya konstruksi aja? gini deh.. sejak membuka mata kita sudah dihajar dengan lagu-lagu cinta di televisi, sinetron, film, rata-rata 80% temanya cinta dan patah hati bukan? Dalam keadaan jatuh cinta maupun patah hati, manusia menjadi labil, mudah terpancing untuk menjadi konsumtif bukan? ah! jangan-jangan cinta-cintaan adalah emosi manusia mendasar yang sengaja dibikin lebay oleh kapitalisme dengan gelontoran lagu-lagu dan film-film cinta agar manusia selalu dirundung ketidakstabilan emosi sehingga mudah diarahkan kepada konsumsi berlebihan! apeu.

Nah jika ingin mendapatkan bayangan visual dari karakter Hank Chinaski ini, kamu bisa nonton serial Californication dimana tokoh utamanya Hank Moody yang diperankan oleh David Duchovny merupakan penggambaran kontemporer dari Hank Chinaski, bener-bener sangat mirip, bahkan sejak awal pembacaan novel “women” dari bukowski, saya langsung teringat dengan karakter Hank Moody dari Californication ini.

ah tailah dengan teori konspirasi, mari kita kembali ke bukowski. Jika kita menggali lebih dalam dari karakter bukowski yang penjahat kelamin, pemabuk, seperti tanpa cinta *sedap*, sebenarnya dia kesepian, membenci diri sendiri dan berusaha mencari arti dari eksistensinya sendiri.

Buat yang bosan dengan percintaan, atau ingin melepaskan diri dari jebakan kegalauan cinta, *azeg. Novel yang vulgar, dan lucu-lucu asik gimana ini cocok untuk anda.

saya kutip beberapa kalimat dari novel tersebut:

“Once a woman turns against you, forget it. They can love you, then something turns in them. They can watch you dying in a gutter, run over by a car, and they’ll spit on you” – hlm. 163

“Strangers when you meet, strangers when you part — a gymnasium of bodies namelessly masturbating each other. People with no morals often considered themselves more free, but mostly the lacked the ability to feel or to love. So they became swingers. The dead fucking the dead. There was no gamble or humor in their game — it was corpse fucking corpse” – hlm. 244

mungkin novel “Women” ini tidak segalau novel-novel Bukowski sebelumnya, karena di novel ini Bukowski sudah sukses sebagai penyair dan novelis. Kayanya saya harus membaca novel-novel sebelumnya yang bertokoh Chinaski juga yaitu Post Office dan Factotum dimana dia masih struggling sebagai penyair dan novelis.

hello! buku konvensional atau digital?

hai, ini adalah blog yang saya buat khusus untuk postingan tentang buku, karena saya sudah membuat beberapa post mengenai buku di blog utama saya, beberapa akan saya reblog dan tulis ulang. gpp ya. hehe. dibawah ini adalah tulisan tentang kecintaan saya terhadap buku, buku analog maupun digital, repost dari blog lama, aslinya ditulis di tahun 2010 :p

Beberapa bulan belakangan orangorang heboh dengan adanya iPad, yang fungsi utamanya adalah untuk membaca ebook + multimedia. sebelum ada iPad, amazon sudah meluncurkan Kindle yang khusus untuk membaca ebook, amazon tentu saja ketarketir dengan adanya Apple iPad, diluar apapun produknya, Apple telah memiliki umat yang fanatik, bahkan replika upil steve jobs pun akan rela diantri berminggu-minggu. Dan kenyataannya memang iPad jauh lebih menarik daripada Kindle, dengan layar multi-touch, full colour, ratusan ribu aplikasi dll. dimana Kindle dengan harga tidak terpaut jauh dengan iPad, masih hitam putih dan bukan layar sentuh, memang kindle fokus pada kenyamanan membaca ebook dengain e-ink yang walau hitam-putih diklaim lebih mudah dibaca, bukan multifungsi untuk segala macam seperti iPad. Namun, nevertheless munculnya iPad membuat Kindle meluncurkan produk terbaru yang lebih terjangkau daripada iPad yaitu Kindle 3 dan aplikasi kindle gratis yang bisa dibuka di berbagai platform media (win,mac,android,blackberry,etc). Persaingan antar ebook reader bukan dimonopoli oleh iPad dan Kindle saja masih ada Nook dari Barnes & Noble, Sony ebook reader dll.. Fenomena banjir ebook ini juga diikuti dengan format perilisan tulisan baru. Entah amazon / borders -saya sedikit lupa- menciptakan peluang untuk penulis, merilis tulisan pendeknya dalam bentuk ebook, dan dijual secara online di tokobukuonline mereka.

lalu bagaimanakah nasib buku konvensional?
Buku konvensional menawarkan pengalaman kognitif secara lebih penuh. indera penglihatan, pendengaran, pencium, peraba semua mendapatkan bagian. Buktinya, [1] penglihatan; buku konvensional menggunakan media kertas yang jenisnya mencapai ratusan, berbeda dengan ebook reader yang menggunakan satu layar LCD untuk semua buku. jenis tinta cetakan misal doff/spot uv dll., membuat pengalaman visual buku konvensional lebih kaya. [2] penciuman; secara ritual hal pertama yang saya lakukan saat membuka buku baru adalah mencium kertasnya; karena perbedaan tinta, kertas, penyimpanan dan umur buku, bau yang muncul selalu khas dan berbeda-beda di tiap buku. [3] pendengaran; selain meberi aroma khas, jenis kertas pun akan menentukan suara yang distingtif saat kita membuka lembar-demi lembar buku tersebut. [4] peraba; sudah jelas buku memungkinkan adanya tekstur yang bermacam-macam, ada pengalaman tertentu saat kita membuka halaman tiap halaman dari sebuah buku. dan lagi membaca buku saat be’ol jauh lebih aman daripada membawa ebook reader ke toilet 😀

Personally, memandang tumpukan buku di rak itupun sudah menenangkan hati meski kita belum membacanya, karena masing-masing buku memiliki sejarah tersendiri ( tempat dan waktu membeli, pemberian, kejadian yang teringat dll). Ada perasaan tamak yang terpuaskan bahwa di rak buku saya, terdapat seluruh pengetahuan di dunia, dan semua ada dalam raihan tangan. mungkin perasaan itu sama dengan gober bebek yang suka berenang di tumpukan uang koleksinya. Lalu seiring dengan dibacanya buku, jejak kita pun menyatu dalam tiap lembarnya; misal goresan stabilo, noda minyak dari jari kita, tetesan liur, rontokan bulu, daki dll. membuat ikatan tersendiri antara buku dan diri kita, semakin sering kita membacanya, semakin personal pula ikatan antara kita dan buku yang kita baca. Pengalaman kognitif yang personal itu yang tak dapat digantikan oleh keberadaan piranti baca digital seperti kindle, ipad, nook dan lainnya.

Namun sepertinya pengalaman membaca buku ini sepertinya segera menjadi kemewahan. Seperti kita tahu buku / kertas berasal dari kayu yang keberadaannya semakin berkurang, dengan berbagai sustainability issues jaman sekarang yang bukan mitos lagi, penggunaan bahan mentah kayu untuk pembuatan buku tentu saja segera dibatasi. Sebagai respon kini beberapa penerbit mulai menggunakan kertas daur ulang dalam cetakannya, kantor kantor menggalakkan policy no paper office dlsb. Jadi dapat diprediksikan (mungkin) beberapa saat mendatang harga-harga buku akan melonjak dan piranti baca digital akan lebih banyak digunakan. Keberadaan buku analog (cetak) dan buku digital tidak saling mengalahkan. karena ada fungsi tersendiri dari masing-masing bentuk tersebut.

Mumpung harga belum naik, mari beli buku sebanyak-banyaknya. rawat buku-buku yang sudah kita punya. Jangan lupa untuk menagih buku-buku yang kita pinjamkan, dan sediakan rak yang memadai untuk koleksi bukubuku kita, trus nabung buat beli digital ebook reader. sekarang saya sudah memakai kindle.