Buku sejarah arsitektur yang keren. Karena bukan berangkat berdasar timeline sejarah, dimana nantinya hanya akan berujung sebagai prngetahuan. Tapi berangkat dari elemen2 pembentuk arsitektur. Misal awalnya arsitektur berupa gundukan (diwakili kubur, piramida, candi, dst), lalu tiang dan balok (arsitrktur cina, jepang, dst) kemudian berbagai variasi geometri dalam sejarah. Elemen2 tersebut digambarkan masing2 dalam bentuk model isometri dimana sangat mudah dipahami untuk pelajar arsitektur pemula. Jadi ini buku sejarah arsitektur yang bisa diaplikasikan dalam proses desain. Bukan hanya sebagai pengetahuan sejarah.

View on Path

Rapid Fire Question

Melanjutkan dari @windascorfi dan @ndarow

Pertanyaan wajib:

1. nambah atau ngurangin timbunan?

menurut loh 😦

Image

Image

2. pinjam atau beli buku?

kalau suka bukunya sebisa mungkin beli,  karena engga tahu kapan kita ingin membaca ulang. nyolong kalau perlu, jangan pinjam. dan saya cenderung engga suka meminjamkan buku karena buku adalah sesuatu yang sangat personal. jadinya otomatis sama sebisa mungkin engga pinjam keorang lain.

3. baca buku atau nonton film?

beda sih pengalamannya, ga bisa dibandingin. film adalah cerita yang merupakan interpretasi sutradara, dimana didalam film engga cuma ada cerita, tapi ada visual effects, music, photography, cinematography, yang dijadikan satu pengalaman audio/visual yang utuh. sementara buku membiarkan kita menginterpretasikan isi buku sesuai dengan fantasi dan kemampuan kita sendiri.

tapi saya lebih sering membaca buku sih daripada nonton film.

4. beli buku online atau offline? (tobuk yg temboknya bisa disentuh)

ada romantisme di toko buku, selain demi buku itu sendiri. misal, nongkrong di rak favorit, lalu mendadak mendapati di rak tersebut ada cewe kece yang dalam hati kita “wah jangan-jangan jodoh gw nih”, pengalaman ini engga tergantikan oleh toko buku online.

tapi ada kemudahan di toko buku online, pilihan lebih banyak dan komplit.

tergantung kebutuhan aja.

5. (penting) buku bajakan atau ori?

lagi-lagi tergantung sama licensenya juga. kalau bukunya pake creative commons license kan kita dengan sah boleh membajak? kenapa engga? misal buku-buku dari lawrence lessig yang anti-copyright 😀

6. gratisan atau diskonan?

pertanyaan apapula ini haha.

7. beli pre-order atau menanti dgn sabar?

pre-order kalau ngebet.

8. buku asing (terjemahan) atau lokal?

lebih sering kecewa baca buku terjemahan, jika baca terjemahan lebih sering melihat siapa penerjemahnya dahulu. jika tidak dikenal, memilih beli versi inggrisnya. diluar itu lebih memilih buku lokal.

9. pembatas buku penting atau biasa aja?

engga suka pembatas buku konvensional, mengganggu. saya lebih sering mengingat halamannya. tapi saya lagi seneng dengan semacam notes tipis (yang bisa difungsikan jadi pembatas buku) dimana kita bisa menulis catatan-catatan kecil berkaitan dengan bacaan. sangat bermanfaat.

10. bookmark atau bungkus chiki?

udah dijawab diatas. 😀

pertanyaan dari @windascorfi

1. baca review atau nulis review buku?

membaca dan menulis adalah satu kesinambungan, seperti orang tarik napas dan buang napas. engga bisa dipisahkan.

2. rajin posting atau rajin socmed?

social media kills the posting mood. haha. sebagai generasi yang kebanjiran informasi, social media membesarkan efek segregasi informasi, maksudnya informasi yang kita dapat begitu banyak namun tidak mendalam, hanya permukaannya saja. jadi ya otomatis lebih sering socmed, tapi semoga bisa diimbangi dengan rajin posting huhu.

3. kopdar atau whatsapp?

i’m a private person, whatsapp lalu kopdar sekali-sakali kece juga.

4. pemenang giveaway atau host giveaway?

menanglah, i’m a bad host haha.

5. (khusus stationery) fancy stuff atau old fashioned stuff?

simple and functional. engga menjawab ya 😀

pertanyaan dari @ndarow

1. Buku yang bikin nangis atau film yang bikin nangis?

lebih sering dibikin nangis oleh film, karena di film kita hanya bisa menerima apa adanya. sementara kalau buku kadang kita jadi overanalyzed things. ketika kita menganalisis, kita berjarak dari permasalahan. lalu jadinya engga terhanyut. hehe. Film yang terakhir bikin saya nangis adalah Architecture 101 huhu.

2. Pesan buku impor di toko buku online luar negeri (bookdepository, amazon) atau di toko buku yang memang menjual buku impor (Periplus, Kinokuniya)?

engga punya credit card. jadi lebih sering ke toko buku.

3. Manga atau novel grafis dan komik (misalnya komik Eropa/Amerika)?

Both, sangat menikmati novel grafis seperti v for vandetta, watchmen, saga, marjane satrapi, american splendor dll. tapi antrian bacaan di kissmanga.com juga masih bejibun.

4. Baca sambil dengerin lagu atau baca di kendaraan?

ahahaa ini pasti karena kamu ga bisa kan :p

saya jarang sih baca sambil denger lagu, karena emang kadang bisa mengganggu konsentrasi, baca di pesawat/kereta adalah kebiasaan saya. perjalanan bagi saya adalah waktu untuk membaca malahan. bisa habis satu buku dalam satu perjalanan.

5. Goodreads atau no Goodreads?

engga terlalu terpengaruh mengenai akuisisi goodreads oleh amazon sejauh fungsi-fungsi katalog dan lainnya masih berjalan seperti adanya. fungsi goodreads buat saya cenderung fungsi pribadi, bukan berkomunitas. so, goodreads.

Pertanyaan dari saya:

1. buku apa yang mengubah hidupmu?

2. kalau boleh cium penulis, pengen cium siapa?

3. punya buku yang suka dibaca berkali-kali ga? kenapa?

4. kalau punya buku disampul gak?

5. biasa boker sambil baca gak?

tagging teman-teman BBI yang dari semarang saja:

@vannyadp

@ika_utomo

@lila_coolradio

@nukhbahsany

@tezarnet

tugas kalian adalah menjawab 10 pertanyaan wajib, menjawab 5 pertanyaan dari saya, lalu membuat 5 pertanyaan baru (beserta 10 pertanyaan wajib) untuk di tag ke 5 orang lain.

hello! buku konvensional atau digital?

hai, ini adalah blog yang saya buat khusus untuk postingan tentang buku, karena saya sudah membuat beberapa post mengenai buku di blog utama saya, beberapa akan saya reblog dan tulis ulang. gpp ya. hehe. dibawah ini adalah tulisan tentang kecintaan saya terhadap buku, buku analog maupun digital, repost dari blog lama, aslinya ditulis di tahun 2010 :p

Beberapa bulan belakangan orangorang heboh dengan adanya iPad, yang fungsi utamanya adalah untuk membaca ebook + multimedia. sebelum ada iPad, amazon sudah meluncurkan Kindle yang khusus untuk membaca ebook, amazon tentu saja ketarketir dengan adanya Apple iPad, diluar apapun produknya, Apple telah memiliki umat yang fanatik, bahkan replika upil steve jobs pun akan rela diantri berminggu-minggu. Dan kenyataannya memang iPad jauh lebih menarik daripada Kindle, dengan layar multi-touch, full colour, ratusan ribu aplikasi dll. dimana Kindle dengan harga tidak terpaut jauh dengan iPad, masih hitam putih dan bukan layar sentuh, memang kindle fokus pada kenyamanan membaca ebook dengain e-ink yang walau hitam-putih diklaim lebih mudah dibaca, bukan multifungsi untuk segala macam seperti iPad. Namun, nevertheless munculnya iPad membuat Kindle meluncurkan produk terbaru yang lebih terjangkau daripada iPad yaitu Kindle 3 dan aplikasi kindle gratis yang bisa dibuka di berbagai platform media (win,mac,android,blackberry,etc). Persaingan antar ebook reader bukan dimonopoli oleh iPad dan Kindle saja masih ada Nook dari Barnes & Noble, Sony ebook reader dll.. Fenomena banjir ebook ini juga diikuti dengan format perilisan tulisan baru. Entah amazon / borders -saya sedikit lupa- menciptakan peluang untuk penulis, merilis tulisan pendeknya dalam bentuk ebook, dan dijual secara online di tokobukuonline mereka.

lalu bagaimanakah nasib buku konvensional?
Buku konvensional menawarkan pengalaman kognitif secara lebih penuh. indera penglihatan, pendengaran, pencium, peraba semua mendapatkan bagian. Buktinya, [1] penglihatan; buku konvensional menggunakan media kertas yang jenisnya mencapai ratusan, berbeda dengan ebook reader yang menggunakan satu layar LCD untuk semua buku. jenis tinta cetakan misal doff/spot uv dll., membuat pengalaman visual buku konvensional lebih kaya. [2] penciuman; secara ritual hal pertama yang saya lakukan saat membuka buku baru adalah mencium kertasnya; karena perbedaan tinta, kertas, penyimpanan dan umur buku, bau yang muncul selalu khas dan berbeda-beda di tiap buku. [3] pendengaran; selain meberi aroma khas, jenis kertas pun akan menentukan suara yang distingtif saat kita membuka lembar-demi lembar buku tersebut. [4] peraba; sudah jelas buku memungkinkan adanya tekstur yang bermacam-macam, ada pengalaman tertentu saat kita membuka halaman tiap halaman dari sebuah buku. dan lagi membaca buku saat be’ol jauh lebih aman daripada membawa ebook reader ke toilet 😀

Personally, memandang tumpukan buku di rak itupun sudah menenangkan hati meski kita belum membacanya, karena masing-masing buku memiliki sejarah tersendiri ( tempat dan waktu membeli, pemberian, kejadian yang teringat dll). Ada perasaan tamak yang terpuaskan bahwa di rak buku saya, terdapat seluruh pengetahuan di dunia, dan semua ada dalam raihan tangan. mungkin perasaan itu sama dengan gober bebek yang suka berenang di tumpukan uang koleksinya. Lalu seiring dengan dibacanya buku, jejak kita pun menyatu dalam tiap lembarnya; misal goresan stabilo, noda minyak dari jari kita, tetesan liur, rontokan bulu, daki dll. membuat ikatan tersendiri antara buku dan diri kita, semakin sering kita membacanya, semakin personal pula ikatan antara kita dan buku yang kita baca. Pengalaman kognitif yang personal itu yang tak dapat digantikan oleh keberadaan piranti baca digital seperti kindle, ipad, nook dan lainnya.

Namun sepertinya pengalaman membaca buku ini sepertinya segera menjadi kemewahan. Seperti kita tahu buku / kertas berasal dari kayu yang keberadaannya semakin berkurang, dengan berbagai sustainability issues jaman sekarang yang bukan mitos lagi, penggunaan bahan mentah kayu untuk pembuatan buku tentu saja segera dibatasi. Sebagai respon kini beberapa penerbit mulai menggunakan kertas daur ulang dalam cetakannya, kantor kantor menggalakkan policy no paper office dlsb. Jadi dapat diprediksikan (mungkin) beberapa saat mendatang harga-harga buku akan melonjak dan piranti baca digital akan lebih banyak digunakan. Keberadaan buku analog (cetak) dan buku digital tidak saling mengalahkan. karena ada fungsi tersendiri dari masing-masing bentuk tersebut.

Mumpung harga belum naik, mari beli buku sebanyak-banyaknya. rawat buku-buku yang sudah kita punya. Jangan lupa untuk menagih buku-buku yang kita pinjamkan, dan sediakan rak yang memadai untuk koleksi bukubuku kita, trus nabung buat beli digital ebook reader. sekarang saya sudah memakai kindle.