Debu. Duka. Dsb. oleh Goenawan Mohamad

debu. duka. dsb.

Bagi orang awam, buku ini bukan buku yang bisa dipahami utuh dalam sekali baca. Seperti biasa Gunawan Muhamad (GM) selalu menulis esai-esai liris, –cukup relevan mengingat dia adalah penyair– kalimatnya sepadat bodi vicky burky, tidak ada kata yang mubazir. Kemendalaman makna dalam tiap kata dalam esai GM memaksa pembaca untuk memusatkan perhatian penuh, membuat buku setebal 150an halaman ini terasa berat. Pengetahuan GM yang ensiklopedik membuat buku ini penuh dengan komentar-komentarnya pada pemikiran tokoh-tokoh penting filsafat dan sastra. Tidak ada kalimat yang kosong dari referensi, kadang terasa berlebihan namun begitulah GM. Mungkin bagi dia pembahasan filsafat dan sastra sudah makanan sehari-hari seperti ibu-ibu membahas kelakuan pembantu dan perkembangan gosip artis. Rasanya seperti mengikuti kuliah profesor tua dimana dia sibuk dengan dirinya sendiri menulis rumus-rumus dan risalah penting di papan tulis. Kita harus memiliki wawasan yang selevel atau mendekati GM agar dapat mengikuti jalan pemikirannya secara gamblang.

Buku ini sebenarnya serentetan esai yang sambung-menyambung, yang masing-masing dibiarkan bebas menjelajah ke berbagai ranah pemikiran filsafat dan sastra, dengan benang merah tentang respon manusia terhadap malapetaka. GM mempertanyakan sikap manusia melakukan pembelaan atas Tuhan atas bencana-bencana yang terjadi dalam berbagai sudut. GM mempertanyakan apakah kuasa Tuhan perlu di-rasionalisasi? apakah Tuhan perlu di bela? GM banyak menampilkan abusrditas-absurditas dan paradox dalam agama dan ketuhanan. Tidak disarankan membaca buku ini sembari boker, bisa-bisa tai anda batal keluar karena kepala sibuk mikir. Buku ini juga tidak disarankan bagi orang yang sudah memiliki pandangan sendiri dalam hidup, yang kepalanya sudah tertutup. Buku ini sesuai bagi intelektual untuk menguji argumentasi dan mengadu referensi atau bagi yang punya keinginan besar untuk belajar dan berpikiran terbuka.

Advertisements

Orang-orang Proyek oleh Ahmad Tohari

Orang-orang proyek

Saya sebenarnya bukan pembaca karya sastra indonesia yang bersemangat, cuma pernah baca sedikit sekali novel sastra. Eh, sebenarnya saya engga bisa membedakan mana yang karya sastra mana yang bukan sih, bisa ngomong novel ini karya sastra juga hanya berdasar dari label di barcode novelnya saja. Tapi secara umum bagi saya yang disebut karya sastra adalah karya yang ditulis dengan bahasa yang baku dan serius, membahas permasalahan yang aktual ataupun pemikiran kontemplatif mendalam, becanda pun dengan gaya yang sebisa mungkin intelek gitulah, CMIIW.

Saya tertarik untuk membeli buku berjudul Orang-orang Proyek ini berdasar sinopsis dari belakang buku yang menyatakan bahwa novel ini bercerita tentang insinyur yang membangun jembatan di sebuah desa beserta dengan konflik-konfliknya. Latar belakang pendidikan saya adalah arsitektur jadi ada semacam ketertarikan bawah sadar untuk memiliki novel ini. Sama seperti kalau anak teknik bertemu dengan anak teknik lain di jalan yang mengenakan jaket angkatan, badan bau belum mandi, mata panda kebanyakan lembur, otomatis merasa saudara sepenanggungan *air hugs*. Eh tapi jaman sekarang engga sebegitunya sih, anak teknik udah kece-kece, rapi, necis, wangi dan pandai bergaul, yang masi dekil, kesian deh yu.

Okay, kembali ke topik. Pertama kali bersentuhan dengan Ahmad Tohari melalui film “Sang Penari” yang merupakan adaptasi dari bukunya Ronggeng Dukuh Paruk. Bukunya cukup ngetop karena sempat dilarang terbit pada masa orde baru karena memang didalam novel banyak menyinggung mengenai PKI walau hanya sebagai background cerita. Saya cukup terkesan dengan filmnya, bagus, asumsinya novelnya pun bagus juga. Jadi ya sebenarnya saya belum pernah sama sekali membaca karya Ahmad Tohari dalam bentuk novel, ini novelnya yang pertama bagi saya, awwh *malu*. 

Novel ini bercerita tentang Kabul, seorang insinyur idealis mantan aktivis kampus yang memimpin sebuah proyek pembangunan jembatan di sebuah desa. Konflik utama terjadi antara Kabul yang idealis dengan sistem proyek yang korup. Sedari awal hingga akhir novel ada satu hal yang bagi saya terasa begitu kuat, yaitu keberpihakan. Keberpihakan Ahmad Tohari pada wong cilik. Keberpihakannya bukan hanya dalam tataran konsep saja, tapi termasuk bahasa penulisan novel ini yang banyak mengambil istilah-istilah bahasa daerah pula. Ahmad Tohari sepertinya memang ingin menempatkan feodalisme dan budaya korupsi sebagai musuh yang harus dilawan. Dan contoh paling nyata terjadinya kedua hal tersebut adalah pada proyek-proyek pemerintah, dimana Ahmad Tohari memotretnya dengan begitu gamblang. Segala macam intrik dan solusi pragmatis dari pelaku-pelaku proyek dalam novel ini benar-benar terjadi dalam kenyataan sehari-hari, bukan hanya pada masa orde baru, bahkan hingga kini. Sayangnya keberpihakan Ahmad Tohari ini digambarkan secara vulgar, sedikit marah, uneg-unegnya tergelontor keluar tak terkontrol, muntah. Mungkin memang begitu apa yang dia rasakan melihat korupsi yang begitu sistemik, dan engga tahu harus kemana lagi harus menyalurkan energi negatifnya. Yah, tapi bagi pembaca rasanya seperti nonton salah satu episode “Mbangun Desa” di TVRI dimana Pak Bina menjelaskan segala macam konflik, menjelaskan siapa yang baik siapa yang buruk. Misi yang mulia, sayangnya terlalu klise.

Sementara dibalik konflik utama tersebut ada sedikit bumbu romans dengan Wati, dan favorit saya adalah Pak Tarya, seorang pemancing yang banyak memberikan pernyataan-pernyataan kontemplatif, entah menanggapi curhat Kabul ataupun mengenai memancing (berdasar wiki, ternyata memang hobi Ahmad Tohari adalah memancing, gak heran tokoh Pak Tarya si pemancing yang hanya muncul selintas menjadi begitu signifikan dan menjadi favorit saya). Hubungan antara Kabul dan ibu-nya pun menarik, walau hanya digambarkan sedikit. Yang paling saya nikmati adalah deskripsi-deskripsi mendetail dari peristiwa yang terjadi dalam novel, sehingga serasa kita melihatnya dalam slow motion, seakan kita bisa menghirup debu proyek, merasakan panas yang menyengat di kulit, melihat pergerakan burung yang gelisah. Dalam pendapat saya, ini yang membedakan penulisan-penulisan penulis yang sudah berumur dengan penulis muda. Penulis-penulis cenderung rumit pada konsep, ide, pemikiran, pada hal-hal yang diolah dikepala. Sementara penulis lama seperti Ahmad Tohari ini, banyak berkontemplasi, menikmati alam, merasakannya dengan tubuh, bukan hanya dengan pemikiran.

2,5/5

Namaku Hiroko oleh NH Dini

Image

[buat whiny anti-spoiler, review ini mengandung sedikit spoiler. jauh-jauh gih]

Ini adalah novel NH. Dini yang pertama kali saya baca, sebenernya karena dipaksa teman karena suatu proyek yang melibatkan NH. Dini. Yaudah deh, dengan harapan akan ditraktir teman itu akhirnya saya kesampingkan antrian bacaan untuk membaca buku ini lebih dahulu. 

Namaku Hiroko ditulis dengan gaya memoir,tokoh utama (hiroko) sebagai sudut pandang pertama. Novel ini bercerita tentang seorang gadis jepang bernama Hiroko.. yaeyaalah, yang kayanya montok-montok hot gimana gitu. Cerita berawal dari kehidupan masa kecilnya di pedesaan yang sederhana sebagai anak dari buruh tani lalu berpindah ke kota dan terjebak oleh silau materialisme. Cukup klise sih tema-nya, tapi hal begini sangat mungkin terjadi di dunia nyata (yang kadang lebih absurd dan gak logis daripada dunia fiksi). Gaya berceritanya lempeng-lempeng aja, terkesan emotionless malahan, terasa seperti saat saya membaca E. Hemingway “The Sun Also Rises”. Namun seperti The Sun Also Rises pula, dibalik kesederhanaan tutur terasa ada pesan-pesan subtil yang mungkin baru terasa di pembacaan kedua. 

Yang menarik dari novel ini adalah pertimbangan moral dari Hiroko yang bisa dibilang liberal. Seks pertamanya dilakukan dengan adik dari majikannya, yang dilakukan tanpa penyesalan bahkan penuh kenikmatan. Kemudian dia melakukan hubungan intim dengan majikannya pula, dia tidak begitu menyukai majikannya tapi dia menikmati seks, jadi tetap dilakukan. Pertimbangan moral Hiroko ini seperti tanpa dasar, dia dibesarkan di desa dengan lingkungan cukup konservatif. Tiba-tiba saja dia menjadi wanita yang bebas saat tiba di kota. Memang dalam perjalanan ke kota Hiroko ditemani oleh Tomiko yang cukup liberal juga, yang berhubungan seks dengan orang-orang di kapal yang digambarkan secara implisit oleh NH. Dini. Namun rasanya alasan tersebut kurang kuat. Atau bisa juga NH. Dini berusaha memotret kultur masyarakat jepang yang memang sejatinya materialistis. Entah.

Momen yang cukup memorable saat membaca novel ini ada di 2/3 paruh buku. Tiba-tiba si Hiroko ini menjalin kasih dengan pemuda Supraprto dari Indonesia. Ini lucu, karena deskripsi NH. Dini tentang jepang dari awal begitu meyakinkan. Lingkungan, budaya, unggah-ungguh,  digambarkan dengan begitu baik sehingga saya merasa sedang membaca sebuah novel terjemahan. Kehadiran Suprapto membangunkan saya bahwa ini novel asli Indonesia. Belakangan baru saya baca bahwa NH Dini ternyata pernah beberapa saat tinggal di Jepang, yeah no wonder then.

Verdict, ini adalah novel yang cukup ringan, tidak ada belat-belit konflik yang memeras otak, dengan pesan-pesan yang lembut tersirat. Secara cerita terkesan seperti second-rate Memoirs of a Geisha, yang mengetengahkan girl power dan kekuatan perempuan untuk memutuskan hal-hal untuk dirinya sendiri tanpa pengaruh sosial. Dan juga bahwa kebebasan bukan hanya melulu keinginan pria, wanita juga mendambakan menyukai kebebasan. 

“..bahwa perkawinan adalah seperti sebuah pintu. Orang yang ada di luar ingin masuk. Sedangkan yang berada di dalam ingin keluar.” – Namaku Hiroko

3/5

 

The Perks of Being a Wallflower by Stephen Chbosky

The Perks of Being a Wallflower. Yaoloh, tentu saja menyenangkan jadi personilnya the wallflowers do’h, apalagi kalau jadi vokalisnya Jacob Dylan, anak dari legenda kaya Bob Dylan, ganteng pula, pasti penis licin tiap hari tanpa perlu banyak usaha…

Image

Eh, ternyata salah. Novel ini bukan bercerita soal band the wallflowers 😐 okay, arti wallflower berdasar urban dictionary :

someone, usually in high school, who sees everything, knows everything, but does not say a word. they are not loners. they are introvertive, meaning they are shy and have a social disease. they cannot handle having someone pay attention to them even though they crave it as much as everyone else. wallflowers are just phased in, and faded into the backround.

Ho.. kok mirip saya, bukan hanya dahulu waktu sma, bahkan sampai sekarang. Yah, setidaknya saya merasa begitu. Saya suka berada di tempat ramai, berdiam diri mempelajari tingkah laku manusia berinteraksi dengan sesama spesiesnya, tanpa ingin tenggelam dalam interaksi, hanya mengamati. Menikmati keberjarakan yang menimbulkan rasa aman. Versi ekstrim dan agak keren dari perilaku ini mungkin bisa dilihat di film pertama Christopher Nolan “Following”.

Image

Okay, novel ini belakangan banyak jadi buah bibir remaja hipster, seperti biasa novel yang dibuat adaptasi filmnya, mendadak semua berlomba-lomba membaca bukunya, however membuat saya jadi penasaran juga, tapi mau beli versi hardcopynya kok rasanya sayang. Lalu suatu hari yang cerah di twitter tiba-tiba remaja putri idaman bangsa, katyusha @ofUlthar membagikan buku The Perks of Being Wallflower-nya dengan kuis yang ternyata hanya saya yang mengikuti, yay! dapet buku gratisan 😀

Setelah berpuluh jam jongkok di wc (akumulatif) akhirnya novel ini selesai juga!

Umm, saya ingin suka dengan novel ini, dengan premis yang sangat relatable dengan kondisi pribadi. Hidup seorang remaja belasan tahun di umur-umur awal masuk SMA, dimana dia baru saja kehilangan tante yang sangat dia sayangi, memiliki sensitifitas tinggi, annoyingly gampang banget nangis oh for god’s sakeEuis tiap hari jual opak juga ga nangis sebanyak itu kali. Banyak banget remaja tanggung yang merasa related dengan novel ini, terbukti dari banyaknya overlayed pic dengan quote-quote dari novel ini bertebaran di tumblr kaya remah jembut di kos-kosan. contoh :

ImageImageImageImageImageImageImageImageImage

yagitudeh.

Novel ini bernarasi melalui surat-surat charlie (tokoh utama) kepada seseorang tak dikenal, yang menceritakan keseharian, lengkap dengan semua hal-hal yang dia pikirkan dan rasakan. Detil-detil alienasi masa remaja-nya cukup ngangenin. Kegundahan eksistensi coming-of-age tergambar dengan sensitifitas remaja kumisan yang belom kenal deodoran. Tatanan kalimat dalam novel jika disusun ulang dengan lebih sederhana akan menjadi teriakan teenage angst “nobody understands me, and eventhough you understands me, i still feel that nobody understands me, because you know i fail to exist if there’s somebody that understands me”. 

yagitudeh.

Engga jelek, bahkan bisa dibilang saya lumayan suka, tapi yang aga-aga menganggu adalah terlalu banyak referensi-referensi buku dan musik yang obvious. Tidak ada yang salah dengan rekomendasi-rekomendasinya, tapi selesai membaca ini, kamu seperti mendadak memiliki kartu anggota aksara dan goodsdept. Atau mungkin umur saya sudah terlalu tua, bukan target audience dari novel ini. Atau mungkin saya sudah melewati tahap hipsterdom standar, menjadi anti-hipster yang sebenarnya adalah titik puncak kehipsteran. Apeu

Ini bukan novel untuk pemuda pengangguran umur 31 tahun.

tapi untuk kamu remaja belasan, atau kamu yang ingin tes ombak kultur hispterdom.

3/5

The Great Gatsby by F. Scott Fitzgerald

great gatsby

Saya membaca buku ini karena sebelumnya beberapa kali saya membaca karya-karya Haruki Murakami dan saya menyukainya. Lalu, berdasarkan wikipedia dinyatakan bahwa Murakami banyak terpengaruh oleh tulisan F. Scott Fitzgerald. Tentu saja saya penasaran dengan tulisan F. Scott Fitzgerald seperti apakah hingga bisa mempengaruhi penulis idola saya itu. Ditambah lagi The Great Gatsby akan difilmkan (kembali) dengan bintang Lenardo dicaprio, dan akan masuk bioskop awal 2013 nanti, membuat pilihan buku FSF yang pertama saya baca adalah The Great Gatsby biar sekaligus bisa jadi snob saat filmnya main nanti “hey, bung saya sudah baca bukunya, moga-moga filmnya sesuai dengan ekspektasi yah” (karepmu mbang).

Okay, akhirnya saya selesaikan buku irni selama seminggu, lumayan struggling dengan kosakatanya (*sigh* perlu lebih banyak baca literatur berbahasa inggris nih), jadi cukup banyak waktu yang dihabiskan untuk menyelesaikan novella setebal 180an halaman ini. Sebagai potret generasi jazz amerika pada tahun 1920-an buku ini bisa dibilang merupakan sebuah landmark. Masa itu merupakan masa keemasan amerika, dengan pemujaan pada materi dan kenyamanan hidup. Digambarkan dalam novel dengan kehidupan kelas atas dengan berpesta sepanjang waktu, dimana bahkan ada orang-orang yang benar-benar hidup dalam pesta-pesta itu seakan pesta adalah semacam semesta baru, turut memperkaya kesan materialistik tersebut adalah banyak dijelaskannya dalam cerita mobil-mobil dengan kecepatan tinggi di jalanan sebagai seting maupun deskripsi.

Namun secara naratif bagi saya kalimat-kalimat fitzgerald agak terlalu “flowery”, mungkin memang gaya tulisan pada masa itu. Slightly, terasa pengaruh fitzgerald pada murakami, yaitu pada deskripsi-deskripsi yang sangat visual, mendetil dan personal. Namun saya terasa kurang related dengan masing-masing karakternya, seperti sambil lalu saja tidak ada koneksi. Nick Carraway sebagai narator terasa seperti satu dimensi. Percintaan antara Daisy, Tom dan Gatsby dengan bumbu nilai-nilai materialistik terasa datar. Ah, tidak bisa banyak komen tentang Fitzgerald karena ini adalah buku pertama-nya yang saya baca.

Sepertinya akan saya baca ulang lagi suatu saat nanti, berharap menemukan apa yang belum saya temukan di pembacaan pertama ini.

The Thirteenth Tale (dongeng ketigabelas) oleh Diane Setterfield

the thirteenth tale

Saya membeli buku ini atas rekomendasi kawan, Siska Yuanita yang sekaligus adalah editor dari versi bahasa indonesianya. Dia bilang kalau saya pasti suka dengan buku ini. Apakah Siska seperti Vianne Rocher dari film Chocolat yang selalu bisa menebak apa coklat favorit dari pengunjungnya dalam sepintas lihat? Apapun itu, rekomendasi dari seorang editor buku kampiun tak boleh diremehkan bukan?

Buku debut karya Dianne Setterfield ini saya beli versi indonesianya karena pertimbangan editornya Siska, kalau engga saya cenderung untuk membeli versi inggrisnya karena kadang terjemahan novel ke indonesia kurang bagus dan seperti tercerabut dari konteks. Novel ini cukup tebal, 608 halaman dengan cover hitam dan tipografi warna emas, membangun ekspektasi novel yang dark. Saya buka halaman awal tanpa tergoda untuk membuka sinopsis di cover belakang, dengan opening notes:

Semua anak memitoskan kelahirannya sendiri. Itu karakteristik umum. Kau ingin mengenal seseorang? Hati, pikiran, dan jiwanya? Tanyakan padanya tentang saat dia lahir. Yang akan kaudapatkan bukanlah kebenaran: kau akan mendapatkan sebuah dongeng. Dan tak ada hal yang lebih menggugah selain dongeng

Dongeng-Dongeng Perubahan dan Keputusasaan, Vida Winter

Pembukaan yang cukup menjanjikan, sudah terasa bau-bau misteri, seperti menjejakkan kaki telanjang pada rumput basah yang mengarah ke hutan berkabut. Tokoh utama novel ini adalah Margaret Lea, seorang anak perempuan dari pemilik toko buku klasik sekaligus agen buku-buku langka, Margaret menemukan cinta pada buku dan kata-kata terutama biografi orang-orang yang telah lama mati, hingga ia menghargai buku lebih dari manusia (instant love for me). Margaret adalah penulis biografi amatir yang memiliki masalah psikologis dan keluarga tersendiri yang cukup pelik dan nantinya terkuak di belakang cerita.

Secara tiba-tiba Margaret mendapat surat dari Vida Winter, dalam novel ini diceritakan sebagai novelis sangat terkenal yang misterius, karena ia selalu menceritakan cerita yang berbeda-beda jika ditanya mengenai masa lalunya. Vida Winter (dari nama dan karakternya kebayang Anna Wintour)meminta Margaret untuk menuliskan biografi hidupnya, segera. Ini menjadi tanda tanya karena Vida Winter meminta seorang penulis amatir untuk menuliskan biografi hidupnya. Pelahan terkuak ternyata ada kesamaan sejarah antara Vida Winter dan Margaret, engga mau spoiler, seru soalnya 😉

Novel ini menyenangkan bagi saya karena berputar di sekitar buku-buku, keluarga Margaret pemilik toko buku, Margaret sendiri menyukai buku, Vida Winter penulis buku, dan banyak sekali adegan-adegan dalam novel ini terjadi di perpustakaan. Bagi penyuka buku, The Thirteenth Tale bisa masuk kategori porno. Ada beberapa literatur inggris klasik yang muncul secara berulang di novel ini, terutama Jane Eyre, Wuthering Heights, dan sedikit Sense and Sensibility. Tanpa penyebutan referensi Jane Eyre, The Thirtheenth Tale gayanya juga sudah mirip dengan Jane Eyre, kental nuansa gothic abad ke-19 dengan seting tempat yang terpencil, musim dingin, dan fenomena spiritual misterius. Mungkin penulis memiliki fetish tersendiri terhadap literatur inggris klasik tersebut, atau memang sengaja ingin menciptakan dunia paralel / mirror-world / narasi bertumpuk / jane eyreception (?).

Kudos buat penterjemah, karena tidak terasa kejanggalan bahasa,  tulisan mengalir sempurna. Saya sempat tersesat di dalam dunia ciptaan Dianne Setterfield, tersesat dan tak ingin kembali haha, ada rasa kehilangan di setiap halaman-halaman yang dibalik. Novel ini direkomendasikan penuh untuk pecinta buku, misteri, sisterhood, nuansa gothic abad ke-19 dan ‘hantu’.

4.5/5

The Sun Also Rises by Ernest Hemingway

Image

Dalam obrolan singkat dengan teman saya yang brilian andina dwifatma beberapa waktu yang lalu, entah berawal darimana dia menyarankan saya untuk membaca novel dari penulis favoritnya Ernest Hemingway, dan judul yang disarankan adalah The Sun Also Rises.

Secara umum novel ini bercerita tentang “lost generation” (istilah yang dipopulerkan oleh Hemingway dalam novel ini) yaitu generasi yang melalui perang dunia I, dimana PD I menimbulkan shock pada kehidupan yang melaluinya, sehingga pasca perang terjadi kegamangan dan perubahan perilaku, dalam novel ini digambarkan dengan ekspatriat yang banyak minum dan bersosialisasi seperti tanpa tujuan di kafe-kafe. Lalu berlibur dengan berpindah-pindah tempat.

Hemingway menampilkan secara subtil kegamangan “lost generation” dari sudut pandang mata pertama tokoh utama yaitu Jake Barnes, seorang amerika penulis ekspat di paris, dengan kawan yahudinya mantan petinju Robert Cohn,  dan kisah cinta / friendzone nya dengan Brett Asthley. Para ekspat tersebut menghibur diri dengan mabuk dari kafe ke kafe dan berlibur dari kota ke kota seperti melarikan diri dari sesuatu, yang sebenarnya percuma seperti ditegaskan dengan pernyataan dari Jake Barnes pada Robert Cohn “You can’t get away from yourself by moving from one place to another”. Sebenarnya cara Hemingway menyampaikan ide-ide secara subtil itu menarik, karena (setelah saya browse dari internet) ciri khas dari prosa Hemingway adalah “while little is said, much is communicated”, dan untuk membaca pesan tersirat tersebut butuh sensitifitas tersendiri dari pembaca.

Setelah selesai membaca kesan saya adalah, Hemingway bercerita dengan runtut dan sederhana, tidak memakai bahasa liris yang mendakik, membuat novel ini mudah dipahami. Namun bagi saya terasa sedikit datar dan repetitif. Entah berapa kali kata “swell” “chap” “tight” diulang-ulang, dan adegan-adegan di kafe dengan para ekspat itu mabuk lalu saling menggoda satu sama lain, datar. Jake Barnes seperti emotionless dan Brett Asthley is a total biyatch! (baca ndiri kalo ini, ga mau spoiler). Ada nuansa antisemit karena beberapa kali kata Jew disebut dengan konotasi yang negatif. Entah mengapa membaca novel ini mengingatkan saya pada The Great Gatsby dari F. Scott Fitzgerald, karena menceritakan tentang sebuah generasi yang diwakili oleh sekelompok manusia dengan kebiasaan-kebiasaan dekaden (bagi hemingway mabuk dari kafe ke kafe, bagi fitzgerald pesta-pesta besar) dan kisah cinta segitiga/banyak antar tokohnya bagi saya mirip, dan kedua novel itu memberi kesan yang sama bagi saya, tedious dan sedikit membosankan. Untuk dapat menikmati novel ini sepertinya harus benar-benar mengerti konteks atau jika tahan dengan bahasa yang repetitif, setidaknya membacanya lebih dari sekali. Verdict 3/5