Home » Review » The Perks of Being a Wallflower by Stephen Chbosky

The Perks of Being a Wallflower by Stephen Chbosky

The Perks of Being a Wallflower. Yaoloh, tentu saja menyenangkan jadi personilnya the wallflowers do’h, apalagi kalau jadi vokalisnya Jacob Dylan, anak dari legenda kaya Bob Dylan, ganteng pula, pasti penis licin tiap hari tanpa perlu banyak usaha…

Image

Eh, ternyata salah. Novel ini bukan bercerita soal band the wallflowers😐 okay, arti wallflower berdasar urban dictionary :

someone, usually in high school, who sees everything, knows everything, but does not say a word. they are not loners. they are introvertive, meaning they are shy and have a social disease. they cannot handle having someone pay attention to them even though they crave it as much as everyone else. wallflowers are just phased in, and faded into the backround.

Ho.. kok mirip saya, bukan hanya dahulu waktu sma, bahkan sampai sekarang. Yah, setidaknya saya merasa begitu. Saya suka berada di tempat ramai, berdiam diri mempelajari tingkah laku manusia berinteraksi dengan sesama spesiesnya, tanpa ingin tenggelam dalam interaksi, hanya mengamati. Menikmati keberjarakan yang menimbulkan rasa aman. Versi ekstrim dan agak keren dari perilaku ini mungkin bisa dilihat di film pertama Christopher Nolan “Following”.

Image

Okay, novel ini belakangan banyak jadi buah bibir remaja hipster, seperti biasa novel yang dibuat adaptasi filmnya, mendadak semua berlomba-lomba membaca bukunya, however membuat saya jadi penasaran juga, tapi mau beli versi hardcopynya kok rasanya sayang. Lalu suatu hari yang cerah di twitter tiba-tiba remaja putri idaman bangsa, katyusha @ofUlthar membagikan buku The Perks of Being Wallflower-nya dengan kuis yang ternyata hanya saya yang mengikuti, yay! dapet buku gratisan😀

Setelah berpuluh jam jongkok di wc (akumulatif) akhirnya novel ini selesai juga!

Umm, saya ingin suka dengan novel ini, dengan premis yang sangat relatable dengan kondisi pribadi. Hidup seorang remaja belasan tahun di umur-umur awal masuk SMA, dimana dia baru saja kehilangan tante yang sangat dia sayangi, memiliki sensitifitas tinggi, annoyingly gampang banget nangis oh for god’s sakeEuis tiap hari jual opak juga ga nangis sebanyak itu kali. Banyak banget remaja tanggung yang merasa related dengan novel ini, terbukti dari banyaknya overlayed pic dengan quote-quote dari novel ini bertebaran di tumblr kaya remah jembut di kos-kosan. contoh :

ImageImageImageImageImageImageImageImageImage

yagitudeh.

Novel ini bernarasi melalui surat-surat charlie (tokoh utama) kepada seseorang tak dikenal, yang menceritakan keseharian, lengkap dengan semua hal-hal yang dia pikirkan dan rasakan. Detil-detil alienasi masa remaja-nya cukup ngangenin. Kegundahan eksistensi coming-of-age tergambar dengan sensitifitas remaja kumisan yang belom kenal deodoran. Tatanan kalimat dalam novel jika disusun ulang dengan lebih sederhana akan menjadi teriakan teenage angst “nobody understands me, and eventhough you understands me, i still feel that nobody understands me, because you know i fail to exist if there’s somebody that understands me”. 

yagitudeh.

Engga jelek, bahkan bisa dibilang saya lumayan suka, tapi yang aga-aga menganggu adalah terlalu banyak referensi-referensi buku dan musik yang obvious. Tidak ada yang salah dengan rekomendasi-rekomendasinya, tapi selesai membaca ini, kamu seperti mendadak memiliki kartu anggota aksara dan goodsdept. Atau mungkin umur saya sudah terlalu tua, bukan target audience dari novel ini. Atau mungkin saya sudah melewati tahap hipsterdom standar, menjadi anti-hipster yang sebenarnya adalah titik puncak kehipsteran. Apeu

Ini bukan novel untuk pemuda pengangguran umur 31 tahun.

tapi untuk kamu remaja belasan, atau kamu yang ingin tes ombak kultur hispterdom.

3/5

4 thoughts on “The Perks of Being a Wallflower by Stephen Chbosky

  1. reviewnya keren2, mas :))

    Tapi setuju, saya juga pertama baca the perks mikir : ini emang saya yang ketuaan ato bukunya yang overrated?

    Walo yah…setelah diingat2, jaman seumuran Charlie saya juga kayak gitu (kesimpulannya gw tua dong? Huh!) X)

    Salam kenal baidewei

  2. Saya baru lulus kuliah waktu baca buku ini, rekomendasi dari teman kos, mungkin karena dia lihat saya nangis ketika mau balik ke kampung halaman, dia ngasih buku ini, kampret sialan saya nangis gak selesai-selesai baca ini (forgive me, saya cengeng). Padahal saya bilang saya gak suka YA, tapi ya dibaca aja ya (._.)”

    Iya, Charlie cengeng, kayak saya, tapi dia cowok, saya gak tahan liat cowok nangis ;_;

    Oh salam kenal mas~

  3. cuakep dah kalimaatnya ““nobody understands me, and eventhough you understands me, i still feel that nobody understands me, because you know i fail to exist if there’s somebody that understands me”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s