Namaku Hiroko oleh NH Dini

Image

[buat whiny anti-spoiler, review ini mengandung sedikit spoiler. jauh-jauh gih]

Ini adalah novel NH. Dini yang pertama kali saya baca, sebenernya karena dipaksa teman karena suatu proyek yang melibatkan NH. Dini. Yaudah deh, dengan harapan akan ditraktir teman itu akhirnya saya kesampingkan antrian bacaan untuk membaca buku ini lebih dahulu. 

Namaku Hiroko ditulis dengan gaya memoir,tokoh utama (hiroko) sebagai sudut pandang pertama. Novel ini bercerita tentang seorang gadis jepang bernama Hiroko.. yaeyaalah, yang kayanya montok-montok hot gimana gitu. Cerita berawal dari kehidupan masa kecilnya di pedesaan yang sederhana sebagai anak dari buruh tani lalu berpindah ke kota dan terjebak oleh silau materialisme. Cukup klise sih tema-nya, tapi hal begini sangat mungkin terjadi di dunia nyata (yang kadang lebih absurd dan gak logis daripada dunia fiksi). Gaya berceritanya lempeng-lempeng aja, terkesan emotionless malahan, terasa seperti saat saya membaca E. Hemingway “The Sun Also Rises”. Namun seperti The Sun Also Rises pula, dibalik kesederhanaan tutur terasa ada pesan-pesan subtil yang mungkin baru terasa di pembacaan kedua. 

Yang menarik dari novel ini adalah pertimbangan moral dari Hiroko yang bisa dibilang liberal. Seks pertamanya dilakukan dengan adik dari majikannya, yang dilakukan tanpa penyesalan bahkan penuh kenikmatan. Kemudian dia melakukan hubungan intim dengan majikannya pula, dia tidak begitu menyukai majikannya tapi dia menikmati seks, jadi tetap dilakukan. Pertimbangan moral Hiroko ini seperti tanpa dasar, dia dibesarkan di desa dengan lingkungan cukup konservatif. Tiba-tiba saja dia menjadi wanita yang bebas saat tiba di kota. Memang dalam perjalanan ke kota Hiroko ditemani oleh Tomiko yang cukup liberal juga, yang berhubungan seks dengan orang-orang di kapal yang digambarkan secara implisit oleh NH. Dini. Namun rasanya alasan tersebut kurang kuat. Atau bisa juga NH. Dini berusaha memotret kultur masyarakat jepang yang memang sejatinya materialistis. Entah.

Momen yang cukup memorable saat membaca novel ini ada di 2/3 paruh buku. Tiba-tiba si Hiroko ini menjalin kasih dengan pemuda Supraprto dari Indonesia. Ini lucu, karena deskripsi NH. Dini tentang jepang dari awal begitu meyakinkan. Lingkungan, budaya, unggah-ungguh,  digambarkan dengan begitu baik sehingga saya merasa sedang membaca sebuah novel terjemahan. Kehadiran Suprapto membangunkan saya bahwa ini novel asli Indonesia. Belakangan baru saya baca bahwa NH Dini ternyata pernah beberapa saat tinggal di Jepang, yeah no wonder then.

Verdict, ini adalah novel yang cukup ringan, tidak ada belat-belit konflik yang memeras otak, dengan pesan-pesan yang lembut tersirat. Secara cerita terkesan seperti second-rate Memoirs of a Geisha, yang mengetengahkan girl power dan kekuatan perempuan untuk memutuskan hal-hal untuk dirinya sendiri tanpa pengaruh sosial. Dan juga bahwa kebebasan bukan hanya melulu keinginan pria, wanita juga mendambakan menyukai kebebasan. 

“..bahwa perkawinan adalah seperti sebuah pintu. Orang yang ada di luar ingin masuk. Sedangkan yang berada di dalam ingin keluar.” – Namaku Hiroko

3/5

 

The Perks of Being a Wallflower by Stephen Chbosky

The Perks of Being a Wallflower. Yaoloh, tentu saja menyenangkan jadi personilnya the wallflowers do’h, apalagi kalau jadi vokalisnya Jacob Dylan, anak dari legenda kaya Bob Dylan, ganteng pula, pasti penis licin tiap hari tanpa perlu banyak usaha…

Image

Eh, ternyata salah. Novel ini bukan bercerita soal band the wallflowers 😐 okay, arti wallflower berdasar urban dictionary :

someone, usually in high school, who sees everything, knows everything, but does not say a word. they are not loners. they are introvertive, meaning they are shy and have a social disease. they cannot handle having someone pay attention to them even though they crave it as much as everyone else. wallflowers are just phased in, and faded into the backround.

Ho.. kok mirip saya, bukan hanya dahulu waktu sma, bahkan sampai sekarang. Yah, setidaknya saya merasa begitu. Saya suka berada di tempat ramai, berdiam diri mempelajari tingkah laku manusia berinteraksi dengan sesama spesiesnya, tanpa ingin tenggelam dalam interaksi, hanya mengamati. Menikmati keberjarakan yang menimbulkan rasa aman. Versi ekstrim dan agak keren dari perilaku ini mungkin bisa dilihat di film pertama Christopher Nolan “Following”.

Image

Okay, novel ini belakangan banyak jadi buah bibir remaja hipster, seperti biasa novel yang dibuat adaptasi filmnya, mendadak semua berlomba-lomba membaca bukunya, however membuat saya jadi penasaran juga, tapi mau beli versi hardcopynya kok rasanya sayang. Lalu suatu hari yang cerah di twitter tiba-tiba remaja putri idaman bangsa, katyusha @ofUlthar membagikan buku The Perks of Being Wallflower-nya dengan kuis yang ternyata hanya saya yang mengikuti, yay! dapet buku gratisan 😀

Setelah berpuluh jam jongkok di wc (akumulatif) akhirnya novel ini selesai juga!

Umm, saya ingin suka dengan novel ini, dengan premis yang sangat relatable dengan kondisi pribadi. Hidup seorang remaja belasan tahun di umur-umur awal masuk SMA, dimana dia baru saja kehilangan tante yang sangat dia sayangi, memiliki sensitifitas tinggi, annoyingly gampang banget nangis oh for god’s sakeEuis tiap hari jual opak juga ga nangis sebanyak itu kali. Banyak banget remaja tanggung yang merasa related dengan novel ini, terbukti dari banyaknya overlayed pic dengan quote-quote dari novel ini bertebaran di tumblr kaya remah jembut di kos-kosan. contoh :

ImageImageImageImageImageImageImageImageImage

yagitudeh.

Novel ini bernarasi melalui surat-surat charlie (tokoh utama) kepada seseorang tak dikenal, yang menceritakan keseharian, lengkap dengan semua hal-hal yang dia pikirkan dan rasakan. Detil-detil alienasi masa remaja-nya cukup ngangenin. Kegundahan eksistensi coming-of-age tergambar dengan sensitifitas remaja kumisan yang belom kenal deodoran. Tatanan kalimat dalam novel jika disusun ulang dengan lebih sederhana akan menjadi teriakan teenage angst “nobody understands me, and eventhough you understands me, i still feel that nobody understands me, because you know i fail to exist if there’s somebody that understands me”. 

yagitudeh.

Engga jelek, bahkan bisa dibilang saya lumayan suka, tapi yang aga-aga menganggu adalah terlalu banyak referensi-referensi buku dan musik yang obvious. Tidak ada yang salah dengan rekomendasi-rekomendasinya, tapi selesai membaca ini, kamu seperti mendadak memiliki kartu anggota aksara dan goodsdept. Atau mungkin umur saya sudah terlalu tua, bukan target audience dari novel ini. Atau mungkin saya sudah melewati tahap hipsterdom standar, menjadi anti-hipster yang sebenarnya adalah titik puncak kehipsteran. Apeu

Ini bukan novel untuk pemuda pengangguran umur 31 tahun.

tapi untuk kamu remaja belasan, atau kamu yang ingin tes ombak kultur hispterdom.

3/5