Home » Review » The Sun Also Rises by Ernest Hemingway

The Sun Also Rises by Ernest Hemingway

Image

Dalam obrolan singkat dengan teman saya yang brilian andina dwifatma beberapa waktu yang lalu, entah berawal darimana dia menyarankan saya untuk membaca novel dari penulis favoritnya Ernest Hemingway, dan judul yang disarankan adalah The Sun Also Rises.

Secara umum novel ini bercerita tentang “lost generation” (istilah yang dipopulerkan oleh Hemingway dalam novel ini) yaitu generasi yang melalui perang dunia I, dimana PD I menimbulkan shock pada kehidupan yang melaluinya, sehingga pasca perang terjadi kegamangan dan perubahan perilaku, dalam novel ini digambarkan dengan ekspatriat yang banyak minum dan bersosialisasi seperti tanpa tujuan di kafe-kafe. Lalu berlibur dengan berpindah-pindah tempat.

Hemingway menampilkan secara subtil kegamangan “lost generation” dari sudut pandang mata pertama tokoh utama yaitu Jake Barnes, seorang amerika penulis ekspat di paris, dengan kawan yahudinya mantan petinju Robert Cohn,  dan kisah cinta / friendzone nya dengan Brett Asthley. Para ekspat tersebut menghibur diri dengan mabuk dari kafe ke kafe dan berlibur dari kota ke kota seperti melarikan diri dari sesuatu, yang sebenarnya percuma seperti ditegaskan dengan pernyataan dari Jake Barnes pada Robert Cohn “You can’t get away from yourself by moving from one place to another”. Sebenarnya cara Hemingway menyampaikan ide-ide secara subtil itu menarik, karena (setelah saya browse dari internet) ciri khas dari prosa Hemingway adalah “while little is said, much is communicated”, dan untuk membaca pesan tersirat tersebut butuh sensitifitas tersendiri dari pembaca.

Setelah selesai membaca kesan saya adalah, Hemingway bercerita dengan runtut dan sederhana, tidak memakai bahasa liris yang mendakik, membuat novel ini mudah dipahami. Namun bagi saya terasa sedikit datar dan repetitif. Entah berapa kali kata “swell” “chap” “tight” diulang-ulang, dan adegan-adegan di kafe dengan para ekspat itu mabuk lalu saling menggoda satu sama lain, datar. Jake Barnes seperti emotionless dan Brett Asthley is a total biyatch! (baca ndiri kalo ini, ga mau spoiler). Ada nuansa antisemit karena beberapa kali kata Jew disebut dengan konotasi yang negatif. Entah mengapa membaca novel ini mengingatkan saya pada The Great Gatsby dari F. Scott Fitzgerald, karena menceritakan tentang sebuah generasi yang diwakili oleh sekelompok manusia dengan kebiasaan-kebiasaan dekaden (bagi hemingway mabuk dari kafe ke kafe, bagi fitzgerald pesta-pesta besar) dan kisah cinta segitiga/banyak antar tokohnya bagi saya mirip, dan kedua novel itu memberi kesan yang sama bagi saya, tedious dan sedikit membosankan. Untuk dapat menikmati novel ini sepertinya harus benar-benar mengerti konteks atau jika tahan dengan bahasa yang repetitif, setidaknya membacanya lebih dari sekali. Verdict 3/5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s