The Great Gatsby by F. Scott Fitzgerald

great gatsby

Saya membaca buku ini karena sebelumnya beberapa kali saya membaca karya-karya Haruki Murakami dan saya menyukainya. Lalu, berdasarkan wikipedia dinyatakan bahwa Murakami banyak terpengaruh oleh tulisan F. Scott Fitzgerald. Tentu saja saya penasaran dengan tulisan F. Scott Fitzgerald seperti apakah hingga bisa mempengaruhi penulis idola saya itu. Ditambah lagi The Great Gatsby akan difilmkan (kembali) dengan bintang Lenardo dicaprio, dan akan masuk bioskop awal 2013 nanti, membuat pilihan buku FSF yang pertama saya baca adalah The Great Gatsby biar sekaligus bisa jadi snob saat filmnya main nanti “hey, bung saya sudah baca bukunya, moga-moga filmnya sesuai dengan ekspektasi yah” (karepmu mbang).

Okay, akhirnya saya selesaikan buku irni selama seminggu, lumayan struggling dengan kosakatanya (*sigh* perlu lebih banyak baca literatur berbahasa inggris nih), jadi cukup banyak waktu yang dihabiskan untuk menyelesaikan novella setebal 180an halaman ini. Sebagai potret generasi jazz amerika pada tahun 1920-an buku ini bisa dibilang merupakan sebuah landmark. Masa itu merupakan masa keemasan amerika, dengan pemujaan pada materi dan kenyamanan hidup. Digambarkan dalam novel dengan kehidupan kelas atas dengan berpesta sepanjang waktu, dimana bahkan ada orang-orang yang benar-benar hidup dalam pesta-pesta itu seakan pesta adalah semacam semesta baru, turut memperkaya kesan materialistik tersebut adalah banyak dijelaskannya dalam cerita mobil-mobil dengan kecepatan tinggi di jalanan sebagai seting maupun deskripsi.

Namun secara naratif bagi saya kalimat-kalimat fitzgerald agak terlalu “flowery”, mungkin memang gaya tulisan pada masa itu. Slightly, terasa pengaruh fitzgerald pada murakami, yaitu pada deskripsi-deskripsi yang sangat visual, mendetil dan personal. Namun saya terasa kurang related dengan masing-masing karakternya, seperti sambil lalu saja tidak ada koneksi. Nick Carraway sebagai narator terasa seperti satu dimensi. Percintaan antara Daisy, Tom dan Gatsby dengan bumbu nilai-nilai materialistik terasa datar. Ah, tidak bisa banyak komen tentang Fitzgerald karena ini adalah buku pertama-nya yang saya baca.

Sepertinya akan saya baca ulang lagi suatu saat nanti, berharap menemukan apa yang belum saya temukan di pembacaan pertama ini.

Advertisements

The Thirteenth Tale (dongeng ketigabelas) oleh Diane Setterfield

the thirteenth tale

Saya membeli buku ini atas rekomendasi kawan, Siska Yuanita yang sekaligus adalah editor dari versi bahasa indonesianya. Dia bilang kalau saya pasti suka dengan buku ini. Apakah Siska seperti Vianne Rocher dari film Chocolat yang selalu bisa menebak apa coklat favorit dari pengunjungnya dalam sepintas lihat? Apapun itu, rekomendasi dari seorang editor buku kampiun tak boleh diremehkan bukan?

Buku debut karya Dianne Setterfield ini saya beli versi indonesianya karena pertimbangan editornya Siska, kalau engga saya cenderung untuk membeli versi inggrisnya karena kadang terjemahan novel ke indonesia kurang bagus dan seperti tercerabut dari konteks. Novel ini cukup tebal, 608 halaman dengan cover hitam dan tipografi warna emas, membangun ekspektasi novel yang dark. Saya buka halaman awal tanpa tergoda untuk membuka sinopsis di cover belakang, dengan opening notes:

Semua anak memitoskan kelahirannya sendiri. Itu karakteristik umum. Kau ingin mengenal seseorang? Hati, pikiran, dan jiwanya? Tanyakan padanya tentang saat dia lahir. Yang akan kaudapatkan bukanlah kebenaran: kau akan mendapatkan sebuah dongeng. Dan tak ada hal yang lebih menggugah selain dongeng

Dongeng-Dongeng Perubahan dan Keputusasaan, Vida Winter

Pembukaan yang cukup menjanjikan, sudah terasa bau-bau misteri, seperti menjejakkan kaki telanjang pada rumput basah yang mengarah ke hutan berkabut. Tokoh utama novel ini adalah Margaret Lea, seorang anak perempuan dari pemilik toko buku klasik sekaligus agen buku-buku langka, Margaret menemukan cinta pada buku dan kata-kata terutama biografi orang-orang yang telah lama mati, hingga ia menghargai buku lebih dari manusia (instant love for me). Margaret adalah penulis biografi amatir yang memiliki masalah psikologis dan keluarga tersendiri yang cukup pelik dan nantinya terkuak di belakang cerita.

Secara tiba-tiba Margaret mendapat surat dari Vida Winter, dalam novel ini diceritakan sebagai novelis sangat terkenal yang misterius, karena ia selalu menceritakan cerita yang berbeda-beda jika ditanya mengenai masa lalunya. Vida Winter (dari nama dan karakternya kebayang Anna Wintour)meminta Margaret untuk menuliskan biografi hidupnya, segera. Ini menjadi tanda tanya karena Vida Winter meminta seorang penulis amatir untuk menuliskan biografi hidupnya. Pelahan terkuak ternyata ada kesamaan sejarah antara Vida Winter dan Margaret, engga mau spoiler, seru soalnya 😉

Novel ini menyenangkan bagi saya karena berputar di sekitar buku-buku, keluarga Margaret pemilik toko buku, Margaret sendiri menyukai buku, Vida Winter penulis buku, dan banyak sekali adegan-adegan dalam novel ini terjadi di perpustakaan. Bagi penyuka buku, The Thirteenth Tale bisa masuk kategori porno. Ada beberapa literatur inggris klasik yang muncul secara berulang di novel ini, terutama Jane Eyre, Wuthering Heights, dan sedikit Sense and Sensibility. Tanpa penyebutan referensi Jane Eyre, The Thirtheenth Tale gayanya juga sudah mirip dengan Jane Eyre, kental nuansa gothic abad ke-19 dengan seting tempat yang terpencil, musim dingin, dan fenomena spiritual misterius. Mungkin penulis memiliki fetish tersendiri terhadap literatur inggris klasik tersebut, atau memang sengaja ingin menciptakan dunia paralel / mirror-world / narasi bertumpuk / jane eyreception (?).

Kudos buat penterjemah, karena tidak terasa kejanggalan bahasa,  tulisan mengalir sempurna. Saya sempat tersesat di dalam dunia ciptaan Dianne Setterfield, tersesat dan tak ingin kembali haha, ada rasa kehilangan di setiap halaman-halaman yang dibalik. Novel ini direkomendasikan penuh untuk pecinta buku, misteri, sisterhood, nuansa gothic abad ke-19 dan ‘hantu’.

4.5/5

The Sun Also Rises by Ernest Hemingway

Image

Dalam obrolan singkat dengan teman saya yang brilian andina dwifatma beberapa waktu yang lalu, entah berawal darimana dia menyarankan saya untuk membaca novel dari penulis favoritnya Ernest Hemingway, dan judul yang disarankan adalah The Sun Also Rises.

Secara umum novel ini bercerita tentang “lost generation” (istilah yang dipopulerkan oleh Hemingway dalam novel ini) yaitu generasi yang melalui perang dunia I, dimana PD I menimbulkan shock pada kehidupan yang melaluinya, sehingga pasca perang terjadi kegamangan dan perubahan perilaku, dalam novel ini digambarkan dengan ekspatriat yang banyak minum dan bersosialisasi seperti tanpa tujuan di kafe-kafe. Lalu berlibur dengan berpindah-pindah tempat.

Hemingway menampilkan secara subtil kegamangan “lost generation” dari sudut pandang mata pertama tokoh utama yaitu Jake Barnes, seorang amerika penulis ekspat di paris, dengan kawan yahudinya mantan petinju Robert Cohn,  dan kisah cinta / friendzone nya dengan Brett Asthley. Para ekspat tersebut menghibur diri dengan mabuk dari kafe ke kafe dan berlibur dari kota ke kota seperti melarikan diri dari sesuatu, yang sebenarnya percuma seperti ditegaskan dengan pernyataan dari Jake Barnes pada Robert Cohn “You can’t get away from yourself by moving from one place to another”. Sebenarnya cara Hemingway menyampaikan ide-ide secara subtil itu menarik, karena (setelah saya browse dari internet) ciri khas dari prosa Hemingway adalah “while little is said, much is communicated”, dan untuk membaca pesan tersirat tersebut butuh sensitifitas tersendiri dari pembaca.

Setelah selesai membaca kesan saya adalah, Hemingway bercerita dengan runtut dan sederhana, tidak memakai bahasa liris yang mendakik, membuat novel ini mudah dipahami. Namun bagi saya terasa sedikit datar dan repetitif. Entah berapa kali kata “swell” “chap” “tight” diulang-ulang, dan adegan-adegan di kafe dengan para ekspat itu mabuk lalu saling menggoda satu sama lain, datar. Jake Barnes seperti emotionless dan Brett Asthley is a total biyatch! (baca ndiri kalo ini, ga mau spoiler). Ada nuansa antisemit karena beberapa kali kata Jew disebut dengan konotasi yang negatif. Entah mengapa membaca novel ini mengingatkan saya pada The Great Gatsby dari F. Scott Fitzgerald, karena menceritakan tentang sebuah generasi yang diwakili oleh sekelompok manusia dengan kebiasaan-kebiasaan dekaden (bagi hemingway mabuk dari kafe ke kafe, bagi fitzgerald pesta-pesta besar) dan kisah cinta segitiga/banyak antar tokohnya bagi saya mirip, dan kedua novel itu memberi kesan yang sama bagi saya, tedious dan sedikit membosankan. Untuk dapat menikmati novel ini sepertinya harus benar-benar mengerti konteks atau jika tahan dengan bahasa yang repetitif, setidaknya membacanya lebih dari sekali. Verdict 3/5