Home » Uncategorized » hello! buku konvensional atau digital?

hello! buku konvensional atau digital?

hai, ini adalah blog yang saya buat khusus untuk postingan tentang buku, karena saya sudah membuat beberapa post mengenai buku di blog utama saya, beberapa akan saya reblog dan tulis ulang. gpp ya. hehe. dibawah ini adalah tulisan tentang kecintaan saya terhadap buku, buku analog maupun digital, repost dari blog lama, aslinya ditulis di tahun 2010 :p

Beberapa bulan belakangan orangorang heboh dengan adanya iPad, yang fungsi utamanya adalah untuk membaca ebook + multimedia. sebelum ada iPad, amazon sudah meluncurkan Kindle yang khusus untuk membaca ebook, amazon tentu saja ketarketir dengan adanya Apple iPad, diluar apapun produknya, Apple telah memiliki umat yang fanatik, bahkan replika upil steve jobs pun akan rela diantri berminggu-minggu. Dan kenyataannya memang iPad jauh lebih menarik daripada Kindle, dengan layar multi-touch, full colour, ratusan ribu aplikasi dll. dimana Kindle dengan harga tidak terpaut jauh dengan iPad, masih hitam putih dan bukan layar sentuh, memang kindle fokus pada kenyamanan membaca ebook dengain e-ink yang walau hitam-putih diklaim lebih mudah dibaca, bukan multifungsi untuk segala macam seperti iPad. Namun, nevertheless munculnya iPad membuat Kindle meluncurkan produk terbaru yang lebih terjangkau daripada iPad yaitu Kindle 3 dan aplikasi kindle gratis yang bisa dibuka di berbagai platform media (win,mac,android,blackberry,etc). Persaingan antar ebook reader bukan dimonopoli oleh iPad dan Kindle saja masih ada Nook dari Barnes & Noble, Sony ebook reader dll.. Fenomena banjir ebook ini juga diikuti dengan format perilisan tulisan baru. Entah amazon / borders -saya sedikit lupa- menciptakan peluang untuk penulis, merilis tulisan pendeknya dalam bentuk ebook, dan dijual secara online di tokobukuonline mereka.

lalu bagaimanakah nasib buku konvensional?
Buku konvensional menawarkan pengalaman kognitif secara lebih penuh. indera penglihatan, pendengaran, pencium, peraba semua mendapatkan bagian. Buktinya, [1] penglihatan; buku konvensional menggunakan media kertas yang jenisnya mencapai ratusan, berbeda dengan ebook reader yang menggunakan satu layar LCD untuk semua buku. jenis tinta cetakan misal doff/spot uv dll., membuat pengalaman visual buku konvensional lebih kaya. [2] penciuman; secara ritual hal pertama yang saya lakukan saat membuka buku baru adalah mencium kertasnya; karena perbedaan tinta, kertas, penyimpanan dan umur buku, bau yang muncul selalu khas dan berbeda-beda di tiap buku. [3] pendengaran; selain meberi aroma khas, jenis kertas pun akan menentukan suara yang distingtif saat kita membuka lembar-demi lembar buku tersebut. [4] peraba; sudah jelas buku memungkinkan adanya tekstur yang bermacam-macam, ada pengalaman tertentu saat kita membuka halaman tiap halaman dari sebuah buku. dan lagi membaca buku saat be’ol jauh lebih aman daripada membawa ebook reader ke toilet😀

Personally, memandang tumpukan buku di rak itupun sudah menenangkan hati meski kita belum membacanya, karena masing-masing buku memiliki sejarah tersendiri ( tempat dan waktu membeli, pemberian, kejadian yang teringat dll). Ada perasaan tamak yang terpuaskan bahwa di rak buku saya, terdapat seluruh pengetahuan di dunia, dan semua ada dalam raihan tangan. mungkin perasaan itu sama dengan gober bebek yang suka berenang di tumpukan uang koleksinya. Lalu seiring dengan dibacanya buku, jejak kita pun menyatu dalam tiap lembarnya; misal goresan stabilo, noda minyak dari jari kita, tetesan liur, rontokan bulu, daki dll. membuat ikatan tersendiri antara buku dan diri kita, semakin sering kita membacanya, semakin personal pula ikatan antara kita dan buku yang kita baca. Pengalaman kognitif yang personal itu yang tak dapat digantikan oleh keberadaan piranti baca digital seperti kindle, ipad, nook dan lainnya.

Namun sepertinya pengalaman membaca buku ini sepertinya segera menjadi kemewahan. Seperti kita tahu buku / kertas berasal dari kayu yang keberadaannya semakin berkurang, dengan berbagai sustainability issues jaman sekarang yang bukan mitos lagi, penggunaan bahan mentah kayu untuk pembuatan buku tentu saja segera dibatasi. Sebagai respon kini beberapa penerbit mulai menggunakan kertas daur ulang dalam cetakannya, kantor kantor menggalakkan policy no paper office dlsb. Jadi dapat diprediksikan (mungkin) beberapa saat mendatang harga-harga buku akan melonjak dan piranti baca digital akan lebih banyak digunakan. Keberadaan buku analog (cetak) dan buku digital tidak saling mengalahkan. karena ada fungsi tersendiri dari masing-masing bentuk tersebut.

Mumpung harga belum naik, mari beli buku sebanyak-banyaknya. rawat buku-buku yang sudah kita punya. Jangan lupa untuk menagih buku-buku yang kita pinjamkan, dan sediakan rak yang memadai untuk koleksi bukubuku kita, trus nabung buat beli digital ebook reader. sekarang saya sudah memakai kindle.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s